Diskusi akhirnya sampai pada kupasan utama yaitu ayat (4) dan (5). Ayat (4) berbunyi Wa lladzii akhraja l-mar`aa “dan yang mengeluarkan rerumputan.” Kemudian dilanjutkan pada ayat (5) Fa ja`alahuu ghutsaaän ahwaa “lalu menjadikannya kering kehitaman.”

Yang diuraikan Allah sebagai contoh adalah rerumputan. Meski demikian, Irfan berpandangan bahwa Allah sebenarnya ingin mewacanakan siklus kehidupan organisme. Materi anorganik yang tak hidup menjadi materi organik yang menunjang kehidupan. Namun organisme itu tidaklah kekal: cepat atau lambat dia akan terurai kembali menjadi materi anorganik.

Terkait pandangannya itu, Irfan menyitir firman Allah dalam Surat Al-An`aam 95. Ayat tersebut berbunyi Inna l-laaha faaliqu l-habbi wa n-nawaa. Yukhriju l-hayya mina l-mayyiti wa mukhriju l-mayyiti mina l-hayy, dzaalikumu l-laah, fa anna tu’fakuun. “Sesungguhnya Allah menyingsingkan biji dan benih. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah Allah, mengapa kamu menyeleweng?”.

Penafsiran Irfan tersebut menghadirkan diskusi yang menarik. Mula-mula Zulkarnain menambahkan bahwa mar’aa secara harfian bukan berarti “rumput”, melainkan “padang gembalaan”. Akan tetapi lanjutnya, ayat tersebut menggunakan majas mursal. “Yang disebutkan tempat, tapi yang diinginkan adalah sesuatu yang berada di tempat tersebut yaitu rerumputan,” paparnya. Beliau juga mengemukakan bahwa makna harfiah ahwaa adalah “hijau legam kehitam-hitaman saking suburnya”.

Adapun Sony, memberikan pandangan yang mirip dengan Irfan. Menurutnya, ayat ini kemungkinan berbicara mengenai pembentukan batubara. Batubara berasal dari tumbuhan yang mati ribuan tahun lalu. Salah satu jenis tumbuhan tersebut adalah nenek moyang rerumputan yang kita kenal sekarang. Tumbuhan mengikat karbondioksida (anorganik) dari atmosfer menjadi karbohidrat (organik) lewat proses fotosintesis. Ketika menjadi fosil, karbohidrat pada tumbuhan tersebut terurai kembali dan menyisakan karbon.

Kemungkinan penafsiran ilmiah lain diusulkan Ustadz Aceng dari DPD. Menurut Beliau bisa saja ayat ini berbicara mengenai bioma gurun. Sebab di lingkungan gurun, sering kali rerumputan terbakar hingga menjadi sekam yang kehitam-hitaman. Kemungkinan ini diperkuat karena ayat (5) menggunakan kata fa ja`ala. “Fa ja’ala bermakna berlangsung dengan cepat,” ungkap Aceng, tidak seperti batubara yang membutuhkan waktu ribuan tahun. Sony menerima kemungkinan penafsiran Aceng. Namun, Beliau melihat “cepat” atau “lambat” bersifat relatif. Bagi Allah ribuan tahun bukanlah waktu yang lama.

~ by muchammadelri on May 3, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: