Karena ini adalah maharku untuk meminang…

Bismillah…

Fajar adalah seorang mahasiswa semester 4 yang kini sudah berhijrah menjadi seorang ikhwan. Awal hijrahnya adalah saat saat mengikuti pesantren ramadhan mahasiswa se-kota B. Sayang, dikampusnya tidak ada rohis yang bisa menunjang jalan hijrah-nya sehingga Fajar hanya bisa mendapatkan ilmu di luar kampus. Pergaulan Fajar dikampus pun berubah, dia kini tidak lagi mau bercampur baur dengan teman-teman wanitanya dikampus, tidak mau lagi bersalaman dengan mereka. Teman-teman kampusnya pun bingung dengan perubahan Fajar, meski dengan mereka, Fajar masih tetap yang dulu, supel, senang bercanda, tidak segan membantu dan tetap menjadi Fajar yang selalu enak menjadi tempat berbagi. Suatu ketika, Fajar sedang berkumpul dengan teman-teman kampusnya, sebagian sedang asyik berpacaran dan bercanda ria, seorang temannya menyelutuk pada Fajar

“Jar, loe habis kena jampi-jampi apa sih sampe berubah gini? Eh loe ga pengen kayak kita? Punya cewek, clubbing bareng, nongkrong di mall atau nonton ke bioskop? Kita ini masih muda men!! So..enjoy it!! “

Fajar hanya tersenyum dan menjawab

“ Masa muda memang masa yang indah, masa yang indah untuk mengabdi pada Allah, karena kalo sudah tua, sedikit gerak saja sudah membuat lelah. Masa muda memang untuk di nikmati, menikmati manis dan indahnya iman dengan semangat untuk berjuang di jalan Allah”

Temannya menjawab lagi

“Sok alim loe Jar, munafik kalo loe ga pernah mau kayak kita-kita gini!”

Fajar tetap menjawab dengan tenang

“Aku ini bukan malaikat yang tidak punya nafsu. Dalam jiwaku, bergolak nafsu muda-ku. Aku juga ingin bersenang-senang dan bebas tanpa aturan. Aku juga punya perasaan cinta, aku ingin melampiaskan rasa cintaku ini pada seseorang. Tapi demi Allah, aku berjuang bersama imanku agar tak menjadi budak nafsu, dan insya Allah ini adalah maharku untuk meminang syurga nanti”

==========================

=====

Disuatu tempat lain, seorang gadis muda nan cantik, berjalan pelan masuk kerumahnya. Jilbab panjangnya melambai pelan tersapu angin sore karena cuaca memang sedang mendung pertanda hujan. Sembari mengucap salam dan mencium tangan ibunya begitu masuk kerumah. Sang ibu menghampiri dan menatapnya penuh sahaja.

“Nak, kamu tahu ga, tadi waktu mama ke arisan dirumah Bu Anna, mama ditodong pertanyaan sama ibu-ibu arisan. Mereka cerita tentang anak gadisnya yang sudah punya pacar. Mereka bangga sekali anaknya bisa punya pacar yang hebat, ada yang mahasiswa kedokteran, ada yang anak pejabat, ada anaknya pengusaha, wah..pokoknya hebat deh. Terus mereka tanya sama mama, “terus anak ibu pacarnya siapa”? Mama Cuma bisa diam dan bilang, kalo kamu itu belum punya pacar. Terus mereka angguk-angguk tapi sambil berbisik juga. Samar-samar mama dengar, mereka bilang kamu itu cewek ga laku habisnya penampilannya suka jadul”

Sang gadis hanya tersenyum simpul mendengar cerita ibunya. Dia paham apa yang sedang di pikirkan sang ibu.

“ Ma, apa mama malu punya anak seperti saya? apa mama malu punya anak yang setiap hari menyibukkan diri dengan amal kebaikan, menjaga kehormatan sebagai seorang wanita muslimah dengan menjaga batas interaksi dengan lelaki, dan menjaga kemuliaan saya sebagai seorang wanita dengan menutup aurat seperti ini?”

Sang ibu terdiam, dalam hati sebenarnya ia tak menerima keputusan putrinya untuk mengubah penampilannya seperti itu. Padahal bila dibandingkan dengan anak gadis teman-teman arisannya, putrinya adalah yang paling cantik, dan itu juga diakui oleh mereka sewaktu dia menjadi tuan rumah arisan. Bahkan bisa jadi, anaknya sangat berpotensi menjadi seorang model atau artis sinetron, suaranya pun merdu.

Sang gadis seakan mengerti kegelisahan sang ibu pun berkata

“Ma, kuatkanlah hati mama dengan apapun yang dikatakan orang lain. Insya Allah, ini adalah mahar saya untuk membeli syurga, tempat kita yang abadi. Dan jika syurga telah bisa saya tempati, bukankah mau tidak mau mama juga akan ikut ke syurga? Karena tanpa dukungan dari mama, saya tidak akan leluasa mengemis kebaikan dimana-mana”

========================== =========

Dalam sebuah majelis kajian pekanan, Sang Ustadz bertanya pada para binaanya.

“ Sepanjang perjalanan dakwah yang sudah kalian jalani, apakah kalian sudah merasakan lelah, bosan, atau kesal karena urusan dakwah telah banyak merampas waktu dan hidup kalian? Jika iya, katakana saja yang jujur pada saya”

Semua binaanya diam, tak ada yang berani memulai untuk menjawab. Hingga kemudian, salah satu binaan mengacungkan tangan meminta ijin untuk bicara pada sang Ustadz

“ Saya pernah Ustadz. Ada satu waktu dimana saya merasa sangat lelah, ketika amanah dakwah banyak menyita waktu luang saya, waktu istirahat dan waktu terpenting dalam hidup saya. Sejak bergabung dengan dakwah, saya hanya punya 3 waktu, waktu untuk ibadah, waktu untuk amanah, dan waktu istirahat dimana didalamnya masih terbagi untuk tidur dan belajar. Saya juga pernah merasa bosan, saat usaha dakwah saya tidak menampakkan hasil, atau kalopun ada, hasilnya tidak sangat sebanding dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya juga kadang kesal ketika harus dituntut menang atas perasaan saya, hal-hal yang kecil saja bisa menjadi sangat rumit, terlebih jika sudah mengatasnamakan perkara hati yang tidak boleh ada pada seorang aktivis”

Sang Ustadz tenang mendengarkan curhat sang binaan, lalu bertanya lagi

“Lalu apa yang membuatmu masih bertahan di jalan ini?”

Sang binaan pun menjawab

“Satu hal yang sangat saya tekankan dalam diri, juga peringatan indah dari teman lainnya, bahwa syurga itu terlalu indah jika harus di raih dengan amat mudah. Karena sesuatu akan lebih terasa indah ketika kita mendapatkannya dengan perjuangan yang sangat melelahkan. Dan insya Allah, semua yang saya lakukan demi mengumpulkan mahar ke syurga”

Dan ustadz pun tersenyum bangga atas curhat dan jawaban sang binaan

=======================================

Saudaraku, jangan pernah bertanya dan menganggap kenapa tuntunan Allah dalam Islam itu begitu rumit, karena kerumitan hanya milik mereka yang tidak mengerti. Karena keta’atan harus beriringan dengan perjuangan iman, dan kita memang harus melelahkan diri di dunia dengan amal shalih demi meraih syurga yang begitu indah. Jangan pernah bertanya kenapa perjuangan ini pahit, sebab jawabannya adalah karena syurga itu manis.

Ada masa dimana kita memang harus bertarung dengan nafsu kemanusiawian kita, kita ingin bebas, ingin melakukan ini dan itu. Dan bukan perkara mudah untuk mengalahkan semuanya, kecuali ketika kita menyadari bahwa keberadaan kita di dunia adalah sebagai seorang musafir, pejuang sekaligus pedagang. Musafir yang menempuh perjalanan ke tempat yang abadi yang hanya berbekal sebuah akal, dan pejuang untuk mengabdi kepada Allah dengan ibadah dan keta’atan atas perintah dan laranganNya hingga menjadi sebuah amal, serta pedagang yang menjual dirinya kepada Allah dengan beramar ma’ruf dan nahi munkar demi menegakkan kalimatNya.

Buah dari kita menjadi musafir, pejuang dan pedagang itulah yang kelak menjadi mahar kita untuk meminang syurga. Yaitu keta’atan, kesabaran dalam beribadah dan dari maksiat, serta kecintaan dan keikhlasan atas semua ketentuanNya. Tidak mudah memang, tapi pasti bisa! Bukankah telah banyak cara yang Allah berikan pada kita untuk mampu melakukan itu semua? Tinggal kita yang harus memutuskan, jalan hidup seperti apa yang mau kita jalani? Dosa dan khilaf adalah sunnatullah untuk manusia, tetapi tepat pada saat kita telah melakukan kesalahan, Allah membuka kesempatan untuk kita mensucikan diri. Jadi jangan pernah menjadikan kefakiran kita akan ilmu dan banyaknya dosa membuat kita enggan menjadi hamba unggulan di hadapan Allah, bahkan tidak berpikir untuk mengumpulkan mahar ke syurga. Tiap jiwa telah Allah berikan 2 jalan, jalan takwa dan jalan kefasikan, dan itu untuk semua manusia tanpa kecuali, sehingga tiap manusia bebas untuk menentukan. Lalu, mengapa kita masih saja diam dan tidak beranjak dari diam amal kita?

Rasulullah S.A.W bersabda “Adapun 3 orang yang pertama kali masuk surga adalah syahid, seorang hamba yang tidak disibukkan oleh dunia dan taat kepada Rabbnya dan orang fakir yang memiliki tanggungan namun ia menjaga diri dari meminta minta (HR. Ahmad). Orang yang miskin akan masuk surga terlebih dahulu dari orang-orang kaya karena mereka tidak memiliki sesuatu untuk dihisab. Selisih waktu antara keduanya adalah 40 tahun. (HR. Muslim)

Wallahualam bish shawab

dari seorang ikhwah….

~ by muchammadelri on August 6, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: