Luar Biasa! Guru Rela Jalan Kaki 90 Km untuk Mengajar

Yakob Kawumbur menerima penghargaan Satya Lancana Pendidikan dari Gubernur SH Sarundajang
Laporan Wartawan Tribun Manado Fernando Lumowa

TRIBUNNEWS.COM, MANADO – Yakob Kawumbur, Kepala Sekolah Dasar Negeri Modisi, Kecamatan Pinolosian Timur, Bolaang Mongondow Selatan, tak pernah menyangka bisa menerima penghargaan Satya Lencana Pendidikan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, jika melihat ke belakang sejarah pengabdiannya, ia memang layak mendapatkan anugerah tertinggi sebagai pengajar tersebut.

Yakob tidak berangkat ke Jakarta. Tidak masuk Istana Negara, bertemu langsung dengan Presiden SBY untuk menerima penghargaan tersebut. Dia menerima Satya Lancana itu saat penyerahan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang di Manado Convention Center (MCC), Selasa (18/5/2010).

Kendati begitu,”Umar Bakrie” asli Likupang, Minahasa Utara, itu terlihat bahagia. Mata Yakob berkaca-kaca menggambarkan perasaannya yang campur aduk. Disaksikan 5.000 pasang mata, dia baru saja menerima Satya Lancana Pendidikan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, atas pengabdiannya yang tulus selama puluhan tahun.

Dalam balutan jas hitam dan peci warna senada, ia terlihat gagah kala kena siraman cahaya lampu kamera wartawan. Riuh tepuk tangan terus membahana kala gubernur menyematkan lencana dan menyerahkan piagam penghargaan dari Presiden SBY.

Ditemui usai acara puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di MCC kemarin sore, Yakob tak bisa menutupi kebahagiaan. Jerih payah puluhan tahun seakan terbayar. “Saya tahu sejak akhir April lalu, saya terpilih sebagai penerima penghargaan ini. Tapi tetap tak percaya,” ujar suami Lidya Salindeho ini.

“Sungguh saya bahagia. Ini bentuk penghargaan yang tak pernah terpikirkan untuk menerimanya. Saja jelas bersyukur,” ujar pria berperawakan ramping sambil menggamit tabung warna merah berisi piagam dari presiden yang baru saja dia terima.

Ia pun berbagi kisah, suka duka selama menjadi guru di pedalaman lingkar Bolsel. Ia menginjakkan kaki pertama kali di Desa Onggunoi, Molibagu, ibukota Bolsel saat ini, tepat 1 Agustus 1983. Tanggal yang masih terpatri jelas di benaknya. Sebelumnya, ia mengabdi di Likupang. Kala itu, Molibagu masih terkucil, tak seperti saat ini sebagai ibukota kabupaten. Setiap pekan keluarga di Onggunoi harus ditinggal pergi.

“Saya sampai saat ini tak tahu kenapa bisa sampai di sana (Bolsel). Mungkin inilah panggilan hidup saya,” kata pria lulusan SMA yang mengambil akta mengajarnya lewat ujian persamaan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Manado tahun 1975.

Bertugas di kedalaman, bukan perkara gampang. Ia bercerita, di awal pengabdian, dia harus mengajarkan ilmu bagi puluhan siswa SD di tiga sekolah berbeda. Ia harus mengajar di SD Induk Onggunoi, serta kelas jauh di Modisi dan Posilagon. Jarak Desa Induk Onggunoi dengan dua lokasi itu sekitar 90 kilometer.

“Waktu itu jalan baru dirintis, hanya ada dua pilihan, jalan kaki atau naik perahu katingting. Saya harus pintar bagi waktu, kelas jauh hanya dua hari dalam seminggu. Mengajar besok, saya harus jalan hari ini usai mengajar di Onggunoi,” tutur Yakob.

Baginya, berjalan kaki sejauh 90 kilometer sudah jadi hal biasa. Ibarat makan, itulah menu utama yang mesti dihabiskan. Berpuluh tahun ia menjalani aktivitas yang bagi sebagian orang tentu bukan perkara mudah.

“Sampai saat ini kendalanya di bidang transportasi. Di sana (Onggunoi) itu, kalau cuaca bagus, jalan dengan kendaraan sekitar tiga jam. Tapi kalau hujan, bisa sampai dua hari, karena harus berlindung, ya di sabuah (dangau), rumah warga di kebun. Lewat laut, ada ombak besar,” tutur Yakob yang baru bisa punya sepeda motor di tahun-tahun terakhir ini.

Yakob satu-satunya guru yang mengajar di dua desa pedalaman tersebut. Kegiatan mengajar bolak-balik Onggunoi-Modisi dilakoninya hingga tahun 1986, saat kelas jauh ditiadakan dan status SD Modisi berdiri sendiri. Saat ini, SD Modisi memiliki 78 orang siswa secara keseluruhan. Ada sejumlah guru bantu yang berbagi suka duka bersamanya.

Ia menuturkan, kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan sarana penunjang seadanya. Bangunan sekolah enam bilik kelas dan satu bilik untuk ruang guru dan urusan lainnya berkonstruksi semi permanen.

Editor : olan_gultom

http://www.tribunnews.com/2010/05/19/luar-biasa-guru-rela-jalan-kaki-90-km-untuk-mengajar

~ by muchammadelri on July 10, 2010.

3 Responses to “Luar Biasa! Guru Rela Jalan Kaki 90 Km untuk Mengajar”

  1. Baru sempat mampir nih!
    Liat-liat dulu….
    Situsnya bagus nih!
    apalagi kalau disuguhi makan!
    hehehehehhehehe
    Kunjungan balik ya sob, ini blog saya
    http://artibelajarmengajar.blogspot.com
    Salam kenal….

  2. SALUT…TAKJUB !!! Ats pengabdian beliau… Hnya tuhan yg bs mmblsnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: