Standing 8 hours in Train….

Sabtu, 18 Juli 2009

Well, hari ini gue ngerencanain pergi ke Yogya setelah 2 hari menunggu kedatangan kiriman kartu ATM BNI gue karena yang sebelumnya pecah. Langsung aja gue perawanin tuh, gesekan pertama buat ngelunasin utang seratus ribu ke temen gue H****n dan sebelas ribu uang pulsa ke A**r. Segera setalah melunasinya, gue langsung meluncur ke stasiun Kiara Condong di injury time maghrib.

Pukul 18.30 gue baru sampai di stasiun gara-gara terjebak macet di Cicadas. Gue buru-buru sholat maghrib dimasjid yang gak jauh dari stasiun. Usai sholat, gue pun bergegas ke stasiun berharap masih ada tiket tersisa. Ternyata yang gue takutkan terwujud, gue dapet tiket “TANPA TEMPAT DUDUK” alias berdiri di kereta Kahuripan keberangkatan jam 21.30 ini. Untungnya uda persiapan fisik tidur lebih cepat malam semalam sebelumnya, jadi gak khawatir.

Jam 21.45 akhirnya kereta Kahuripan yang ditunggu dateng juga. Setelah berebutan masuk dengan harapan bisa dapet tempat duduk sementara, sebelum penumpang sesungguhnya yang naik di stasiun berikutnya menghuni “singgasana”nya. Diluar dugaan, ternyata kereta yang dari Padalarang ini uda penuh sesak. Sialnya lagi, gue terjebak di tengah gerbong dan gak bisa bergerak. Bayangkan saja, “lahan berdiri” gue gak lebih dari 2 petak ubin lantai rumahan. Untuk mengambil posisi duduk pun tak bisa. Tangan gue cuma bisa bertengger di kedua senderan kursi di kiri dan kanan. “Klo begini gak bakalan bisa duduk nich sampe Lempuyangan”, pikir gue. Ya uda dech, akhirnya gue niatin aja berdiri sampe akhir sekaligus buat rekor pribadi buat diri gue sendiri..

Dua jam pertama perjalanan, gue masih bugar bertahan. Walaupun kondisi di kereta sudah sangat “menggila”. Bau keringat dan asap rokok menciptakan “aroma dan nuansa” yang begitu kentara. Wajar saja,sebab dalam 2 jam pertama ini kereta masih sering berhenti di stasiun untuk menarik penumpang. Dinginnya malam tidak tersentuh kulit, yang ada justru kegerahan dan kepanasan yang amat sangat akibat sumpeknya gerbong terlebih ketika kereta berhenti yang membuat tidak ada angin malam yang berhembus ke dalam gerbong. Jam 1 pagi, gue uda mulai mengantuk karena kelelahan tapi apa boleh buat gue gak bakal bisa tidur dalam posisi berdiri kayak gini. Apalagi kalau sewaktu-waktu pedagang asongan lewat di lorong gerbong. “Edan, demi sesuap nasi mereka rela menerobos lorong yang penuh sesak begini”, pikir gue. “Seandainya aja pemimpin negara kita benar-benar ngerasain penderitaan rakyatnya, pasti gak akan ada kondisi kayak gini! Ini benar-benar memprihatinkan…”, pikir gue lagi. Sisa-sisa perjalanan gue manfaatkan untuk “tidur kucing” yang sewaktu-waktu terbangun. Sebagai gambaran aja, gue tertidur seperti tawanan perang Vietnam yang berdiri dengan bertumpu pada kedua tangan kiri-kanan di atas sandaran kursi dengan kaki yang lemes.Zzzz….

Akhirnya jam, 5.45 keretanya nyampe di stasiun Lempuyangan, dengan tenaga tersisa gue menuju mushola buat sholat subuh. Setelah itu, gue nongkrong di angkringan depan stasiun sembari menunggu jemputan dari temen gue W*****n, yang tinggalnya gak jauh dari stasiun. setiba di kosnya, langsung aja gue ambil posisi tidur dan tepar hingga waktu zuhur…

That’s one of my crazy’s stories…Tunggu kisah-kisah berikutnya…

^_^

written by:

Muchammad Elri Abrian Noor (ME80)
Geologycal Engineering @ Bandung Institute of Technology
muchammadelri.wordpress.com
muchammadelri.blogspot.com
me80.mighty@gmail.com / mean_gl_bpp@yahoo.co.id

~ by muchammadelri on May 7, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: